“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir” (QS. Az-Zumar: 42)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, hadits dari sahabat Abu Qatadah –semoga Allah Ta’ala meridhoi beliau- ia berkata:

“Pada suatu malam kami menempuh perjalanan bersama Nabi –shalallahu ‘alahi wa sallam-. Sebagian orang dari kami berkata: “Ya Rasulullah! Sebaiknya kita beristirahat menjelang pagi ini.” Rasulullah pun kemudian berkata: “Aku khawatir kalian tidur nyenyak sehingga melewatkan shalat subuh.”

Mendengar perkataan beliau, Bilal –semoga Allah Ta’ala meridhoi beliau- kemudian menjawab demi menghilangkan keraguan hati Rasululloh dengan berujar: “Saya akan membangunkan kalian.”

Mendengar jaminan dari sahabatnya tersebut, beliau akhirnya menyetujui saran dari para sahabatnya, dan memutuskan untuk beristirahat sejenak beserta kafilah di tempat itu, hingga tanpa tersadarkan mereka tertidur lelap, dan tidak lama kemudian dalam kondisi yang sangat letih Bilal-pun akhirnya  menyandarkan punggungnya pada hewan tunggangannya, dan ia-pun  tertidur pulas dari keletihan perjalanan yang menimpanya.

Tanpa terasa fajar kian menyingsing, Nabi–shalallahu ‘alahi wa sallam- terbangunkan dari tidur lelapnya, dalam kondisi yang tersentak, beliau lantas mendekati sahabat Bilal yang tengah tertidur pulas di samping kendaraannya, dan beliau-pun lantas membangunkannya dan berkata: “Wahai Bilal mana bukti ucapanmu?!”.

Terjaga dari tidur lelapnya, Bilal terkaget-kaget seraya menjawab: “Saya tidak pernah tidur sepulas malam ini.” Mendengar penuturannya, Rasulullah –shalallahu ‘alahi wa sallam- kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah mengambil nyawamu kapanpun. Dia mau dan mengembalikannya kapanpun Dia mau. Wahai Bilal! bangunlah dan suarakan adzan!” Rasulullah dan para sahabatnya lantas berwudhu, setelah matahari agak meninggi sedikit dan bersinar putih, Rasulullah kemudian berdiri bersama mereka untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah”.

Shalat Shubuh merupakan salah satu waktu di antara beberapa waktu, dimana Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan shalat di kala itu. Allah Ta’ala berfirman,

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).(Qs. Al-Isra': 78)

Namun begitu, kita masih sering menyaksikan begitu banyak kaum muslimin yang melalaikan diri dalam mengerjakan shalat shubuh, sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan shalat.

Jika kita melihat jama’ah yang shalat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jama’ah pada waktu shalat lainnya.

Boleh jadi –Wallahu a’lam- apa yang menimpa Rasululloh beserta para sahabatnya seperti yang diceritakan pada hadits di atas, merupakan sebuah kejadian yang hanya terjadi sekali dalam kehidupan mereka, dan peristiwa ini tentunya terjadi bukan tanpa maksud dan arti, melainkan didalamnya terkandung hikmah yang berarti, yang mengajarkan kepada kita terkait sikap dan tindakan yang mesti dilakukan manakala kita bangun kesiangan sehingga tidak berkesempatan menunaikan shalat berjamaah.

Kondisi ini tentunya berbeda jauh dengan sebagian besar diantara kita yang sudah menjadikan rutinitas telat shalat Shubuh menjadi agenda harian   dengan tanpa rasa penyesalan menggelayuti hati dan pikiran kita ! Dalam haditsnya, Rasululloh shalallahu ‘alahi wa sallam- mengingatkan kita semua:

Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum (Khilafah) dan yang paling akhir adalah sholat(HR. Ahmad).

Dalam riwayat yang lain disebutkan pula:

Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.(HR. Bukhari dan Muslim).

Di luar dari berbagai fakta yang berhubungan dengan shalat Shubuh tersebut, ada begitu banyak keutamaan yang akan hilang bilamana kita tidak berkesempatan hadir menunaikan shalat pada waktu tersebut, diantaranya:

(1) Salah satu penyebab masuk surga

Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar), maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Salah satu penghalang masuk neraka

Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar)(HR. Muslim)

(3) Berada di dalam jaminan Allah

Barangsiapa yang shalat shubuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.(HR. Muslim)

(4) Dihitung seperti shalat semalam penuh

Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.(HR. Muslim)

(5) Disaksikan para malaikat

Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (shubuh).(HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu ‘alam bisshowab

Oleh Ridwan, Lc, M.Pd.I

Admin

Komentar

Facebook

Arsip

Pengunjung

  • Pengunjung hari ini: 0
  • Kemarin: 188
  • Pengunjung Minggu ini: 483
  • Pengunjung Bulan ini: 1.622
  • Pengunjung Tahun ini: 23.017
  • Jumlah Pengunjung: 363.218
  • Total pengunjung: 93.985