(Jum’at, 19/01/2018), Kepala sekolah SMA Islam Terpadu Harapan Umat (HARUM) Karawang, Ridwan,Lc. M.Pd, bertolak menuju Malaysia dalam rangka mengikuti event seminar Internasional. Acara yang bertajuk International Confrence on Enhancing Educational Opportunities (IESCO) mengetengahkan isu penting terkait pentingnya keberlangsungan pendidikan di berbagai negara yang saat ini tengah di landa konflik peperangan, semisal Palestina, Suriah, Yaman, Rohingya dan yang lainnya. Seminar ini diadakan di hotel JW Mariot Putra Jaya Malaysia dan diresmikan secara langsung oleh YB Dato’ Seri Idris Bin Jusoh, selaku menteri pendidikan Malaysia, adapun peserta datang tidak kurang  dari 10 negara Muslim.26814554_568195026859353_3833402722187819061_n

Menurut data yang dirilis oleh PBB, saat ini di dunia terdapat 60 juta jiwa yang menjadi korban di pengungsian akibat terjadinya konflik peperangan. Survey data mengetengahkan dari total korban peperangan saat ini 75%  diantaranya didominasi oleh negara-negara Muslim. Selanjutnya Badan anak-anak PBB (UNICEF) juga melaporkan lebih dari 13 juta anak-anak putus sekolah akibat konflik di Timur Tengah. PBB memperingatkan, harapan generasi muda akan pupus jika mereka tak dapat kembali ke ruang kelas. Seperti dilansir halaman Aljazirah, jumlah anak putus sekolah tersebut meliputi lima negara antara lain, 2,7 juta anak Suriah, 2 juta di Irak, 2 juta di Libya, 3,1 juta di Sudan, 2,9 juta di Yaman dan 700 ribu lain di negara-negara sekitarnya.  Unicef mengatakan konflik juga menyebabkan lebih dari 8.850 sekolah tak bisa lagi digunakan. Banyak ruang kelas, yang kini justru dialihfungsikan sebagai tempat penyimpanan bom rakitan. Dampak konlik dirasakan oleh hampir semua anak di seluruh wilayah Timur Tengah. Kondisi ini bukan hanya kerusakan fisik yang dilakukan pada sekolah, tapi putus asa dirasakan oleh generasi anak sekolah yang melihat harapan dan masa depan mereka hancur.26805185_1124997977635918_4658146482241123976_n

Sebagai seorang muslim, semua realitas menyedihkan di atas wajib menjadi bahan pemikiran bersama, terlebih sampai detik ini kepedulian kita terhadap sesama masih terpaku kepada donasi berupa sandang dan pangan saja, belum menyentuh aspek pentingnya proses pendidikan yang berkelanjutan di dunia konflik (Sustainable Education under Conflict). Point penting inilah yang menjadi pokok pembahasan bersama di seminar kali ini, terlebih sebagai umat yang besar, masyarakat Muslim sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menanggulangi permasalahan dunia ini, dengan mempertimbangkan potensi kekayaan SDM serta potensi alam yang dimiliki oleh setiap negara, terlebih potensi Zakat, infaq, shodaqoh  serta potensi Wakaf yang belum tereksploitasi secara maksimal.

Sebagai sosok yang terlibat di dunia pendidikan secara praktis, hadirnya saya di seminar ini tentunya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, bukan sekedar  mendapat relasi atau teman baru dalam cakupan lebih luas, namun juga ilmu serta wawasan yang sangat berharga yang disuguhkan oleh para pemateri pada level Internasional, terlebih ada 10 pemateri bertitel Profesor yang berkenan hadir, mereka semua datang dari berbagai negara, seperti Turki, Jepang, Yaman, Palestina, Burma, Kuwait, Al Jazair, serta Malaysia selaku tuan rumah. Para pemateri dengan semangatnya beragitasi, berbagi ilmu serta membuka wawasan kepada kami semua selaku peserta seminar, sekaligus memberikan rasa optimisme dalam diri, bahwa untuk merekaulang sebuah peradaban bangsa yang terpuruk, solusi yang paling tepat wajib dikedepankan di samping aspek materi adalah PENDIDIKAN !

(Ridwan)

Admin

Komentar

PPDB SMAIT 2018/2019

Facebook

Arsip

Pengunjung

  • Pengunjung hari ini: 14
  • Kemarin: 278
  • Pengunjung Minggu ini: 1.537
  • Pengunjung Bulan ini: 8.572
  • Pengunjung Tahun ini: 86.454
  • Jumlah Pengunjung: 240.472
  • Total pengunjung: 53.378